Feeds:
Posts
Comments

Mujahidku, apa kabar?

Semoga saat ini engkau dalam keadaan baik.

Penatku… Penatmu saat ini semoga tetap di jalan-Nya

Semoga, mendung ini dapat kau nikmati juga

Supaya kau merasa sejuk setelah seharian bercampur debu

 

Mujahidku…

Semoga saat ini DIA menjaga hati, mata, pendengaran dan jiwamu

Menjaga semuamu, untukku…

Pun aku, semoga DIA membantu untuk menjaga kehormatan, jiwa dan jasadku

Menjaga semuaku, untukmu…

Karena-NYA semata

Mujahidku, tahukah kau ???

Saat ini aku berdoa untuk keselamatanmu

Semoga saat ini engkau masih teguh dijalan yang DIA bentangkan untukmu

 

Mujahidku …

Saat penat pikiran dan jiwa kian mendera

Saat hamparan-hamparan dakwah ini mengajak kita, berputar bersamanya

Sungguh … aku hanya berharap DIA ridho atas apa yang aku dan engkau lakukan

 

Mujahidku …

Entah engkau ada dimana saat ini

Aku tak hendak melukis jasadmu

Aku tak hendak menerka tentangmu

Tahukah kau, mujahidku?

Aku mencintaimu sebelum mata ini memandang, sebelum telinga ini mendengar

Sebelum perkara-perkara jasad ini merusak semua ketulusanku atas siapapun kau

Dan aku ingin menjaganya tetap begitu SEDERHANA

Ah, mujahidku semoga kau lantunkan doa yang sama pada pemilik kita

Takdirku… Takdirmu… hanya ada dalam genggamanNYa

Dan kita tak akan pernah tahu itu

 

Mujahidku …

Dalam sujud-sujud panjangku, aku merayu-NYA

Menyelipkan sebuah doa, semoga aku pantas mendampingimu

Entah, siapapun engkau…

Entah, dimana dirimu berada …

Namun, ada hormat, rindu dan kepercayaan

yang memberiku selaksa ketulusan menanti dirimu

Mujahidku, sungguh aku hanya ingin menjaga diriku dan jiwaku

Mempersiapkannya … menempanya …

Agar jika suatu saat DIA berkehendak membuat skenario tentang kita

Aku telah siap menapaki jalan yg kita pilih hanya bersamamu

Hingga hanya DIA muara akhir semua cerita.

 

tersimpan lama di *kotak harta karunku*, entah tulisan siapa 🙂

Advertisements

Sikap Diam Obama

Dimuat di Republika Kamis 8 Januari 2009

obama

Continue Reading »

Palestina… (kembali) banjir darah syuhada

palestine1Adakah hati kita terketuk? Atau biasa-biasa saja melihat, mendengar saudara-saudara kita se-aqidah, se-iman didzolimi??? Continue Reading »

Sabtu 02.30 am.  di kota kelahiran..

Dingin menusuk sampai tulang membawaku terbangun dalam redupnya cahaya malam. Rasa kantuk yang sangat karena aku baru tertidur selama sekitar satu jam setelah semalaman itu dalam perjalanan dari Jakarta menuju rumah di pinggiran kota Bandung ini, ditambah dinginnya udara kota kembang, membuatku enggan menggerakkan badan untuk sujud di 2/3 malam itu.

Namun, tak lama ketika aku hendak merapatkan selimut.

Terdengar sayup suara mama yang sedang membaca surat Ar Rahman..

Aaah.. Seperti tersihir aku mendengarnya, tiba-tiba rasa hangat menelusup perlahan ke sekujur tubuhku.. Air mata pun meleleh, hanyut dalam ayat-ayat yang membawaku mengingat kebesaran Allah.

Fabiayyi aalaai robbikumaa tukadzziba..

Maka nikmat mana lagi yang kan kau dustakan??

Aku merenung dalam… Betapa besar nikmat dan kasih sayang yang telah Dia berikan kepadaku..

Fabiayyi aalaai robbikumaa tukadzziba..

Kembali rilih suara mama membacakannya

Menambah deras air mata yang cukup membuat bantal kesayanganku basah kuyup

Semakin aku tenggelam dalam perenungan yang dalam.

Sedang semuanya Dia ciptakan begitu indah untukku, semuanya… ya .. semuanya..

Dia menjadikanku sempurna,

Dia berikan semua yang terbaik untukku,

Mama yang penyayang,

Papa yang hebat,

Adik-adik yang menyenangkan,

Semuanya yang membuat rumah sederhana ini bercita rasa surga

Dan milyaran bentuk kasih Allah Ya Rahmaan lainnya terlimpah untukku..

Untuk semua itu, akupun masih enggan menghadapNya, bersujud dan mensyukuri semua yang Dia

Astagfirullah

Ampuni hambaMu ini ya Allah, sadar akan kelemahan, sadar akan segala khilaf dan alfa, sadar jarang sekali hamba bersyukur atas segala nikmat ini..

Ampuni Ya Ghofuur..

..

Dengan langkah mantap aku bangun, bergegas mengambil air wudhu..

Dengan kerinduan yang membuncah… bersujud dihadapanMu

..

Makasih Ma, kelak aku ingin bisa menjadi mama sepertimu yang mengenalkanku pada Allah yang kini sangat kurindu..

Hari ini aku menangis Ma.. Mengingatmu…

Rindu mama, seketika bayang-bayang mama hadir seperti film lama yang diputar kembali. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi dan jilbabku.

Terimakasih ma, atas cintamu kepadaku 21 tahun ini. Mamaku sayang, mama yang selalu membuatku tegar setiap menghadapi masalah, mama yang mengajariku mencintai, mengajariku bersabar, mengajariku tegar, mengajariku bagaimana menghargai, mama yang membuatku berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik…

Mama..

atas do’a yang senantiasa terpanjatkan untukku disetiap sujud-sujud panjangmu di 1/3 malam terakhir, disetiap dhuhamu, disetiap saat mama mengingatku.. terimakasih mama.

Mama..

Ingatkan satu minggu yang lalu ketika mama mengantarku hingga bus menuju Jakarta? Ketika untuk puluhan milyar kali aku mencium tanganmu dan mama mencium keningku.. Mama menatapku dalam.. membelai kepala dan memelukku mesra.. Kau bilang, kau mencintaiku.. sungguh ma.. walau tak sanggup kukatakan saat itu, akupun mencintaimu.. sangat..

Selama perjalanan ke Jakarta itu, aku menangis mengingat semalam..

Ketika aku terbangun untuk shalat dan mengambil air wudhu. Aku dengar mama menyebut dan mendo’akanku dalam sujud tahajud mama. Sejak itu aku tau, do’amu telah berubah tak lagi seperti yang dulu.. entah sejak kapan.. Kini kau sering mengajakku berdiskusi, bercerita tentang kedewasaan dan kehidupan orang-orang dewasa..

Aku juga ingat ketika mama bilang aku sudah dewasa sekarang, mungkin sebentar lagi akan ada seorang ikhwan shalih yang Allah ridho padaNya datang lalu membawaku pergi.. Mama bilang tak apa-apa, mama ikhlas dan hanya iman yang menjadi syaratnya.. karena iman itulah yang akan membuat hidup kita barokah. Mama tau, setiap kali mama bahas itu, membuatku ‘mati gaya’, membuat pipiku merona.. :”> aku malu ma..

Sejak itu, semakin banyak yang mama ajarkan padaku. ilmu-ilmu yang luarbiasa. dari mama aku belajar menjadi seorang istri, seorang ibu dan madrasah bagi keluarga dan masyarakat..

Sungguh Ma, aku tak ingin yang muluk-muluk.. aku hanya ingin selalu ada surga disetiap sisi rumah sederhana kita.. juga dirumah yang kelak akan kubangun bersama orang akan menjagaku semakin dekat dengan Allah, dan kami akan bahagia disana bersama jundi-jundi kecil kami.

Mama…

Aku tak dapat membalas apapun yang telah kau berikan padaku

dan akupun tau kau tak akan meminta sesuatupun dariku

tapi seperti harapanmu yang kini menjadi semangatku dipagi dan senja hari

aku ingin persembahkan makhota kemuliaan di surga itu padamu…

makhota yang telah Allah janjikan

untuk wanita setangguhmu.. mama..

 

Tanda cintaku padamu.. Mama…

Yang bener aja bulan ini banyak banget yang milad (baca: ulang tahun) sama nikah. Hiks… Mana utang2 (ngasih kado sama K’Rani, Pa Zaki, Mba Ochi, Mama, k’Wili dll) kemarin juga belum terbayarkan, di tambah bulan ini buat papa, t’Erni, k’Qpeng, Ayang, k’Feddy dan …

Huhu..huuhu.. :((

Waduh, gimana nih??? Uang My cukup g ya??? Jangan2 salary bulan ini cuma cukup buat beli gituan doank! Trus budget liburan panjang mana??? Sorry Din, Sar, Vit dan temen2 laen, kyknya liburan g kemana2 deh. Rencana qta ke Pengandaran gimana Ce? heuheu.. LIBURANKU cerahlah!! [-o<

Hmm… Jangan dulu bicara liburan panjang, Idul Adha yang udah didepan mata siap menguras tabungan juga. Tapi,, ups.. g jadi deh bawa2 Idul Adha, Alhamdulillah udah dibeli bulan kemaren.

Sekarang tinggal mikirin, buat fixed cost. Bayar asuransi, ongkos2, makan.. WaduuuHHHH!!! GuBrakKKk!!! Full budget!!

Qta liat 2 minggu lagi,, klo My masih bertahan berarti My keren tapi klo semua berantakan… terancam punah deh!!! Trus gimana nasib blog ini tanpa My?? Hiks… :((

Jiwaku adalah peluru, hatiku perisainya

Kalkulasikanlah kenyataan ini
Autobiografi skenario demokrasi rumusan koleksi sejarah laut mati
Hingga pembantaian fakta di bingkai “Nuansa Pagi”
Sebusuk ceramah pengkafiran kasus misteri pesantren al Zaitun
Luapkan sandi perjuangan palsu
Persis dengan senyawa omong kosong janin LEMKARI
Babat prasangka orthodoks Syiria
yang memuat platform dominasi Al Qur’an di Concilinicea
cerminan argumentasi mutakhir pembodohan rainkarnasi Saurus

Lupakanlah ruh para mujahid
Ketika Yasser Arafat adalah syahid dan Syaikh Ahmad Yassin menjadi teroris
Mungkin itu yang membuat butiran peluru di tubuh Hassan Albanna terlupakan
Dan Gamal Abdul Nasher berhak menjadi sejarah sandiwara smackdown
Continue Reading »