Sore hari setelah hujan kemarin ibu mertua datang berkunjung kerumah sederhana kami. Dirumah hanya ada saya sendiri karena badan yang kurang fit saya terpaksa tidak masuk kantor, sedangkan suami seperti biasanya pulang kerja malam hari. Ketika memijati ibu yang juga sedang kurang sehat kami menonton berita di TV yang serisi tentang keadaan para caleg yang gagal lolos pada pemilu kemarin..
Tadinya saya kira ibu tidak terlalu memperhatikan, namun ternyata tidak.. Kami justru jadi asyik berdiskusi mengenai hasil pemilu yang menyebabkan banyak caleg yang gagal lolos tersebut menjadi stress.
Macam-macam saja ulah para caleg yang gagal itu, diantara mereka ada yang bunuh diri, masuk RSJ, menjalani pengobatan alternatif ke desa-desa untuk menghilangkan stress, berjalan-jalan ke kebun binatang adapula yang mengambil kembali sumbangan yang telah diberikannya kepada sebuah mushola.. sungguh sangat disayangkan..

Suasana di RSJ

Mengapa ini bisa terjadi???
Seperti data yang saya peroleh disini
Sistem penetapan anggota legislatif dengan menggunakan suara terbanyak menyebabkan dana kampanye para caleg meningkat 10 kali lipat. Seorang caleg bisa menghabiskan ratusan juta rupiah bahkan miliaran rupiah. Mereka menghamburkan uang untuk memasang poster, spanduk, baliho, dan foto diri di pinggir jalan atau di pohon-pohon dan di tiang listrik. Dengan sistem kompetisi penuh seperti ini tentunya membutuhkan biaya dan energi yang tak sedikit, angka orang gila dan bunuh diri diperkirakan akan naik tajam.
Perkiraan itu tidaklah mengada-ada. Bayangkan saja untuk mendapatkan nomor urut kecil dalam daftar urut caleg saja, mereka harus merogoh kantong dalam-dalam. Sialnya, setelah membeli nomor urut, Mahkamah Konstitusi menetapkan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. Bukan berdasarkan nomor urut seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif.
Selain itu ketatnya persaingan untuk memperoleh predikat anggota dewan terhormat sangat ketat. Jumlah calon anggota legislatif (caleg) terlampau banyak, mencapai jutaan orang, sedangkan kursi yang tersedia amat terbatas. Bayangkan, sebanyak 11.215 orang memperebutkan 560 kursi DPR dan 1.109 orang bersaing mendapatkan 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah. Selain itu, sekitar 112 ribu orang bertarung untuk mendapat 1.998 kursi di DPRD provinsi dan 1,5 juta orang bersaing merebut 15.750 kursi DPRD kabupaten/kota. Sebuah jumlah yang luar biasa banyaknya.
Memperoleh suara terbanyak pun belum menjadi jaminan mendapatkan tiket ke Senayan. Itu disebabkan partainya mesti lolos 2,5% parliamentary threshold. Jika partainya tidak mendapatkan suara melebihi ambang batas parlemen, sekalipun sang caleg mendapatkan suara melampaui caleg dari partai lain, dia dan partainya tetap tidak bisa melenggang ke Senayan
Para caleg mengeluarkan uang bukan dari kelimpahan harta, melainkan dari menjual harta, berutang, dan meminta-minta ke kiri dan ke kanan. Setelah gagal menjadi anggota dewan, mereka pasti pusing tujuh keliling untuk menutup utang dan rasa malu. Dari sanalah pangkal gangguan yang berujung pada sakit jiwa.
Akibat kekalahan dalam pemilu para caleg bisa mengalami gangguan jiwa yang diawali dengan rasa cemas, susah tidur, putus asa, merasa tak berguna, dan kemungkinan terburuk bunuh diri. Kebanyakan dari mereka bahkan bukan tidak mungkin sudah memiliki gangguan kejiwaan, walau masih dalam taraf gejala sebagai penderita skizofrenia dan antisosial. Gejala itu terlihat pada pendengaran suara dari dalam dirinya yang tidak didengar orang lain atau meyakini orang lain tengah membaca dan mengendalikan pikiran mereka. Ucapan dan perilaku mereka juga sangat tidak beraturan sehingga kerap menakutkan orang yang berada di sekitarnya.
Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan pun mengantisipasi untuk menyiagakan seluruh dokter yang bertugas di 32 rumah sakit jiwa di Tanah air. Tapi daya tampung rumah sakit jiwa hanya 8.500 tempat tidur. Namun sayangnya jumlah itu terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah caleg yang ada.
.
hhh… Itulah mental orang-orang yang ingin menjadi pemimpin negeri ini..
Apa yang akan terjadi jika kelak pemimpim-pemimpin kita bermental seperti itu??
SIAP MENANG TAPI TIDAK SIAP KALAH #:-S







ya… orang orang di indonesia ini mentalnya benar benar bikin dirinya sendiri “mental” ke belakang….
tapi memang sistem kita ya kaya gini gimana lagi mbk?
O ya, wah… sekarang udah berkeluarga…
do’anya mbak biar segera nyusul…
Wassalamu’alaykum…
Sedih kalo denger beritanya di tv…
Sungguh…
malam mbak
sahabatku……
suster itu bukan sedang mencari keberadaannya blue kan? heheh..
met libur
salam hangat dalam dimensi persahabatannya blue
pa cabar?
Alhamdulillah… PKS gak banyak2 mengeluarkan uang karena caleg2nya PKS yang menentukan bukan kadernya yang mengajukan diri(meminta amanah)… itulah bedanya PKS dengan partai lain..
bila tujuan sudah melenceng ya begitu…, niat menjadi anggota legislatif bukan lagi sekedar menjalankan amanah rakyat, tapi dijadikan akses untuk kekuasaan dan untuk mengejar materi semata.
semangat semangat yuk sahabat
salam hangat selalu
pa cabar?